-->

Bali Kini

Ads

Kabar Denpasar

Kabar Tabanan

Kabar Klungkung

Kabar Jembrana

Minggu, 19 April 2026

Sinergi Adat dan Dinas, Desa Adat Denpasar Komitmen Dukung Penanganan Sampah Organik di Sumber.

Ket foto : Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Bendesa Adat Denpasar, I Gusti Ngurah Alit Wirakesumabsaat menghadiri sosialisasi pengolahan sampah berbasis sumber di Wantilan Setra Agung Badung, Desa Adat Denpasar, Minggu (19/4). 


Denpasar, Bali Kini - Komitmen penanganan sampah berbasis sumber terus mendapat dukungan dari berbagai stakeholder. Kali ini datang dari Desa Adat Denpasar yang berkomitmen untuk mendukung pengolahan sampah organik di sumber. Demikian diungkapkan Bendesa Adat Denpasar, I Gusti Ngurah Alit Wirakesuma dihadapan Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat sosialisasi pengolahan sampah berbasis sumber di Wantilan Setra Agung Badung, Desa Adat Denpasar, Minggu (19/4). 

Bendesa Adat Denpasar, I Gusti Ngurah Alit Wirakesuma dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa permasalahan sampah merupakan tantangan bersama. Karenanya, penanganannya pun memerlukan komitmen dari seluruh pihak, termasuk dari pemerintah, lembaga hingga masyarakat itu sendiri. 

Lebih lanjut dijelaskan, sinergi antara dinas dan adat memang tidak dapat dipisahkan. Karenanya, Desa Adat juga memiliki peran sentral dalam kebijakan penanganan persampagan. Mewilayahi 106 banjar, Desa Adat Denpasar memiliki wilayah luas. Karenanya, diperlukan kesepakatan serta kesepahaman dalam penanganan sampah.  

"Tentunya kami berkomitmen untuk penanganan sampah, utamanya sampah organik dari sumber, dan ini juga sudah disepakati oleh para Prajuru Banjar Adat yang hadir, harapan kami bisa optimal dalam penanganan sampah organik di sumber," ujarnya. 

Alit Wirakesuma menjelaskan bahwa saat ini Desa Adat Denpasar terus berupaya menangani sampag organik secara mandiri, terutama sampah upakara. Namun demikian, penanganannya hanya akan optimal jika masyarakat mendukung dengan memilah dan mencacah sampah organik. 

"Jadi perlu kerjasama dan sinergitas, pemerintah menangani yang an organik dan residu, kita di masyarakat termasuk Desa Adat Denpasar menangani yang organik, dan yang paling penting, jika nanti ada Tong Komposter, Teba Moderen dan Bag Komposter yang siap panen namun tidak tertampung di wilayah Desa Adat Denpasar, kita di Desa Adat Denpasar sudah menyiapkan lahan untuk penampungan yang nantinya akan kita jadikan taman atau ruang terbuka hijau," ujarnya. 

Sementara, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengaku bersyukur atas sinergi dan komitmen dari Desa Adat Denpasar dalam penanganan sampah organik. Hal ini tentu menjadi wujud nyata bahwa penanganan persampahan wajib dilaksanakan secara bersama-sama. 

"Kami berharap, budaya baik dalam memilah sampah agar terus ditularkan, sehingga nanti kita di Kota Denpasar bisa optimal dalam penanganan sampah sampai PSEL beroperasi, dan kita sangat berterima kasih atas komitmen dari Desa Adat Denpasar," ujarnya. 

Jaya Negara menjelaskan, Walaupun dalam praktiknya, PSEL mampu mengolah sampah campuran namun kualitas dan dampak pengolahan sangat dipengaruhi oleh kondisi sampah yang masuk ke dalam sistem. Sehingga sampah yang dihasilkan oleh masyarakat harus tetap dipilah untuk memastikan input sampah yang digunakan benar-benar berkualitas.

"Untuk diketahui bersama, bahwa Waste to Energy memerlukan sampah berkualitas, sehingga sampah yang terpilah akan mendukung optimalisasi dari PSEL tersebut," jelasnya.

Sampah yang sudah dipilah dari sumber (seperti pemisahan sampah organik, anorganik dan residu) memiliki nilai kalori yang lebih stabil dan kandungan air yang lebih rendah. Kondisi ini membuat proses pembakaran di PSEL menjadi lebih efisien, menghasilkan energi listrik yang lebih optimal serta dapat menekan potensi emisi berbahaya.

"Terima kasih kepada Bendesa Adat Denapsar serta seluruh prajuru banjar adat yang hadir, semoga sinergi ini dapat optimal mendukung penanganan sampah di Kota Denpasar," ujar Jaya Negara. 

Dalam sosialisasi tersebut turut hadir Kadis DLHK Kota Denpasar, Ida Bagus Putra Wirabawa, Camat Denpasar Barat, I Wayan Yusswara, Perbekel/Lurah di wilayah Desa Adat Denpasar, Klian Adat/Prajuru Adat di wilayah Desa Adat Denpasar serta Pecalang Desa Adat Denpasar. (Ags).

Wawali Arya Wibawa Apresiasi Aksi Peduli Lingkungan MPK SMAN 2 Denpasar di Pantai Mertasari

Denpasar, Bali Kini - Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa bersama Ketua GOW Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa menghadiri kegiatan bakti sosial yang digelar Majelis Perwakilan Kelas (MPK) SMAN 2 Denpasar di Pantai Mertasari, Minggu (19/4). 

Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan peduli lingkungan sebagai upaya preemtif untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan sejak dini.


Dalam kesempatan tersebut,  Arya Wibawa menyampaikan apresiasi tinggi kepada para siswa, khususnya MPK SMAN 2 Denpasar, yang telah menginisiasi kegiatan bakti sosial melalui aksi bersih-bersih pantai serta penanaman pohon. Menurutnya, langkah ini menjadi contoh nyata kepedulian terhadap lingkungan yang patut ditiru oleh sekolah lain.

“Saya ucapkan terima kasih kepada anak-anak, khususnya MPK SMAN 2 Denpasar, yang telah melaksanakan kegiatan ini. Semoga hal ini dapat menjadi contoh bagi sekolah lainnya dalam menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.


Lebih lanjut dijelaskan,
keterlibatan generasi muda dalam aksi nyata seperti ini sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama di kawasan wisata yang rentan terhadap permasalahan sampah.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Denpasar, I Gede Eka Mahendra, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan peduli lingkungan yang menekankan langkah nyata, bukan sekadar teori. Ia menyoroti bahwa permasalahan sampah kini telah menjadi isu global yang membutuhkan solusi komprehensif dan kolaboratif dari semua pihak.


“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan aksi nyata bahwa kami peduli terhadap lingkungan. Harapannya, ke depan ada solusi yang lebih komprehensif dalam penanganan sampah, khususnya di Bali,” ungkapnya.


Ia juga menambahkan bahwa Pantai Mertasari merupakan salah satu lokasi favorit masyarakat untuk berolahraga dan rekreasi, sehingga memiliki potensi besar dalam menimbulkan sampah. Oleh karena itu, menjaga kebersihan kawasan ini menjadi sangat penting agar dapat menjadi contoh pengelolaan kawasan wisata yang bersih dan nyaman.

Dalam kegiatan tersebut, turut juga dilakukan penanaman 20 pohon ketapang sebagai simbol komitmen menjaga kelestarian lingkungan. Namun demikian, menurutnya, hal yang paling utama adalah upaya berkelanjutan dalam menanggulangi permasalahan sampah.

Kegiatan ini juga melibatkan berbagai pihak, seperti LSM Malu Dong, siswa SMP di kawasan Mertasari, termasuk SMPN 2 Denpasar, serta berkoordinasi dengan pemerintah desa (perbekel) dan jajaran Dinas Pendidikan. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat gerakan peduli lingkungan secara luas di masyarakat.


Lebih lanjut disampaikan, kegiatan bakti sosial ini rutin dilaksanakan setiap tahun oleh organisasi sekolah, baik OSIS maupun MPK, dengan agenda minimal dua kali dalam setahun sebagai bentuk implementasi pendidikan karakter bagi siswa.

Pihak sekolah berharap kegiatan positif ini dapat terus berlanjut dan mampu membangun empati serta semangat generasi muda untuk menjaga lingkungan. Dukungan dari sekolah, lingkungan sekitar, dan masyarakat luas dinilai sangat penting agar gerakan ini menjadi berkelanjutan dan memberikan dampak nyata. (Ayu )

TIM SAR EVAKUASI JENASAH DI BAWAH TEBING


PECATU , BALI KINI --- Sesosok tubuh laki-laki ditemukan terdampar di Pantai Savaya, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Minggu (19/4/2026) sore. Info kejadian baru diterima petugas siaga Kantor Pencarian dan Pertolonhan Denpasar pada pukul 17.10 Wita dari anggota Polsek Kuta Selatan. 

Tak berselang lama, 3 personel diberangkatkan menuju lokasi kejadian. Proses evakuasi melibatkan unsur SAR lainnya dari Polsek Kuta Selatan, Bhabinsa Desa Pecatu Pecatu, Linmas Desa Pecatu, petugas Ambulance Banser dan masyarakat setempat. 

Upaya evakuasi cukup memakan waktu, karena akses ke posisi jenasah harus menuruni medan yang curam dan batu karang tajam. "Jenasah dibawa secara manual dengan melewati medan curam hingga bisa dibawa naik ke atas," terang I Nyoman Sidakarya, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar. Selain kondisi yang beresiko tersebut, evakuasi harus dilakukan dengan hati-hati karena situasi gelap, pencahayaan terbatas. 

Akhirnya kurang lebih pukul 19.40 Wita, tim SAR gabungan selesai melakukan evakuasi. Jenasah tanpa identitas tersebut dibawa menuju RSUP Prof. Ngoerah menggunakan Ambulance Banser. (ayu)

Hanya Desa Tanpa Ada TPS3R Yang Boleh Buang Sampah Organik di Suwung


Laporan Reporter: Jero Ari 
Denpasar , Bali Kini - Sampah organik bisa dibuang ke TPA Suwung hanya dua kali dalam seminggu. Untuk di Kota Denpasar, pembuangan sampah organik ini hanya bisa dilakukan oleh desa atau kelurahan yang belum memiliki fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Hal ini tetap memicu antrean sejumlah truk angkut sampah menujunTPA, Minggu (19/4).
"Organik yang dibawa ke TPA Suwung adalah dari desa-desa yang tidak memiliki TPS3R, untuk desa/kelurahan yang sudah memiliki TPS3R, sampahnya sudah dicacah dan akan diarahkan ke proses lanjutan," kata Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara.
Menurutnya, sampah organik yang telah dicacah akan difermentasi hingga layak, kemudian dimanfaatkan lebih lanjut sebagai material komposter. Dengan pola ini, volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan secara bertahap.
Kebijakan pembuangan sampah organik ke TPA Suwung tersebut bersifat sementara dan berlaku hingga akhir Juli. Hal itu sesuai kesepakatan yang telah dibangun bersama pemerintah pusat.  Dalam masa transisi ini, Pemkot Denpasar juga mempercepat pengoperasian mesin pengolah sampah berbasis teknologi atau RDF, ujarnya Jayanegara.
Saat ini, lanjutnya beberapa mesin telah mulai beroperasi, sementara tambahan unit sedang didatangkan dan dipasang di sejumlah lokasi, termasuk Tahura dan Kertalangu. "Kalau semua mesin ini sudah berjalan, tentu akan sangat meringankan volume sampah yang kita kirim ke TPA," paparnya lagi.
Pemkot Denpasar menargetkan kapasitas pengolahan mencapai 500 ton per hari melalui mesin RDF. Hasil olahan berupa RDF tersebut selanjutnya akan diambil oleh pihak pengelola yang telah bekerja sama dengan Pemkot, sehingga tidak lagi menjadi beban di TPA. Selain itu, keberhasilan pengelolaan sampah di daerah lain seperti Banyumas menjadi salah satu acuan dalam penerapan teknologi ini. 
Pihak mitra juga akan mendampingi operasional mesin selama tiga bulan untuk memastikan hasil optimal. Namun demikian, Jaya Negara mengakui bahwa pengolahan sampah tetap menyisakan residu sekitar 10 persen yang tetap harus dibuang ke TPA.  "Dimana pengolahan RDF pasti ada residu, itu sudah kami sampaikan dan dipahami oleh pemerintah pusat," Tegasnya.

Sabtu, 18 April 2026

Bugbug Culinary Festival Dorong Ekonomi Lokal dan Promosikan Taman Harmoni Bukit Asah

Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih

KARANGASEM, Bali Kini – Upaya mengenalkan destinasi wisata baru di Kabupaten Karangasem terus digencarkan. Salah satunya melalui penyelenggaraan Bugbug Culinary Festival selama 2 Hari yakni tanggal 18-19 April 2026. Digelar di Taman Harmoni Bukit Asah, Desa Bugbug, Kecamatan Karangasem yang baru saja selesai ditata sebagai destinasi wisata.

Festival ini menghadirkan beragam kuliner lokal dengan tujuan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat, sekaligus mengintegrasikan potensi wisata dengan sektor usaha mikro dan kuliner.

Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam pembukaan acara tersebut, di antaranya Anggota DPRD Provinsi Bali sekaligus mantan Bupati Karangasem, I Gusti Ayu Mas Sumatri, perwakilan sekolah, Bendesa Adat Bugbug, Perbekel Desa Bugbug, jajaran prajuru adat, Asisten III Pemkab Karangasem, Tim Ahli bidang pariwisata, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kepala Dinas Perindag, Ketua PHRI Karangasem dan lain-lain.

Taman Harmoni yang sebelumnya dikenal dengan sebutan “Panggian” dulunya merupakan kawasan hutan belukar yang belum dapat diakses. Kini, setelah dilakukan penataan, kawasan ini menjadi destinasi yang menawarkan keindahan alam serta suasana ketenangan yang khas.

Bendesa Adat Bugbug, Jro Nyoman Jelantik, menyampaikan bahwa festival ini merupakan bagian dari gerakan bersama untuk membangkitkan pariwisata lokal berbasis tradisi dan kreativitas masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kami membuka ruang seluas-luasnya bagi pelaku UMKM, generasi muda, dan masyarakat untuk berinovasi serta menampilkan potensi budaya lokal. Kami berharap Bugbug Culinary Festival bisa menjadi contoh bagi desa lain bahwa budaya dan ekonomi dapat berjalan selaras,” ujarnya.

Sementara itu, Perbekel Desa Bugbug, I Gede Diatmaja, menegaskan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam mengembangkan potensi desa.

Menurutnya, kawasan Bukit Asah memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap, termasuk akses menuju Virgin Beach yang dapat menjadi sumber pendapatan desa. Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan mandiri oleh masyarakat lokal agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung.

Di sisi lain, Ketua PHRI Karangasem, I Wayan Kariasa, memberikan apresiasi atas inisiatif masyarakat dalam mendukung kemajuan pariwisata daerah.

“Saya bangga masyarakat mampu memberikan kontribusi nyata bagi pariwisata Karangasem. Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya dan berharap kegiatan ini dapat terus mendorong pemulihan serta peningkatan ekonomi, khususnya di sektor kuliner,” ungkapnya.

Sementara, Gusti Ayu Mas Sumatri  mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga semangat dan kemandirian dalam membangun potensi daerah.

“Jangan menyerah dengan keadaan. Mari kita bangun semangat bersama, singsingkan lengan baju, dan bergerak untuk kemajuan desa serta wilayah kita sendiri,” tegasnya.

Dengan semangat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha, Bugbug Culinary Festival diharapkan menjadi langkah awal dalam menjadikan Taman Harmoni Bukit Asah sebagai salah satu destinasi unggulan di Karangasem. (Ami)

Ratusan Tukang Ojek Raup Berkah Selama IBTK di Pura Agung Besakih


Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih 
KARANGASEM, Bali Kini – Rangkaian Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Agung Besakih membawa berkah tersendiri bagi para tukang ojek yang beroperasi di kawasan tersebut. Selama 21 hari pelaksanaan karya, jumlah order meningkat signifikan dibanding hari biasa.

Sebanyak 660 tukang ojek terlibat dalam pelayanan transportasi bagi pemedek. Mereka terbagi menjadi dua kategori, yakni 360 ojek reguler yang sehari-hari mangkal di Besakih, serta 300 ojek musiman yang hanya beroperasi selama kegiatan IBTK berlangsung.

Untuk memudahkan identifikasi, ojek reguler menggunakan rompi putih, sementara ojek musiman memakai rompi merah. Pengelola juga telah menyiapkan enam titik pos ojek guna menunjang kelancaran layanan.

Ketua Pengelola Badan Fasilitas Besakih menjelaskan bahwa seluruh ojek telah terdata dan berada di bawah pengawasan. Pihaknya rutin melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna memastikan para pengemudi menaati aturan, mulai dari penggunaan seragam, kepemilikan SIM, kelayakan kendaraan, hingga larangan berkendara ugal-ugalan.

Selain itu, sistem antrean juga diterapkan untuk menjaga ketertiban. Tarif ojek telah ditetapkan sebesar Rp10.000 per orang, sehingga tidak terjadi praktik tarif liar di lapangan.

Salah satu tukang ojek, Wayan Sukra, mengaku merasakan peningkatan penghasilan yang cukup signifikan selama IBTK. Jika pada hari biasa dirinya kerap tidak mendapatkan penumpang karena persaingan yang ketat, kini ia bisa mengangkut penumpang hingga 10 kali putaran dalam sehari.

“Kalau hari biasa kadang tidak dapat sama sekali, sekarang bisa sampai 10 kali jalan. Penghasilan bisa tembus Rp100 ribu per hari,” ujarnya.

Dengan meningkatnya aktivitas keagamaan di kawasan suci tersebut, keberadaan ojek menjadi salah satu penopang kelancaran mobilitas pemedek sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat setempat.(ami)

Jumat, 17 April 2026

Kementerian Pariwisata Gelar Dharma Santi Nyepi 2026: Momentum Penguatan Pariwisata Berkelanjutan


NUSA DUA , BALI KINI  - Kementerian Pariwisata RI sukses menyelenggarakan perayaan Dharma Santi
Nyepi Tahun Baru Saka 1948 pada Jumat, 17 April 2026, yang dipusatkan di Gedung MICE
Widyatula, Politeknik Pariwisata Bali. Mengangkat tema "Nusantara Harmoni di Hari Suci Nyepi:
Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan untuk Indonesia Maju", kegiatan yang dilaksanakan
secara hibrida ini menjadi momentum krusial untuk mempererat tali persaudaraan atau nyama
braya di lingkungan kementerian serta memperkuat hubungan harmonis dengan alam dan
lingkungan. Acara ini dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Pariwisata RI, Ibu Ni Luh Puspa, serta
melibatkan delegasi dari berbagai unit kerja pusat dan Politeknik Pariwisata dari seluruh
Indonesia, termasuk Bandung, Medan, Makassar, dan Lombok.
Rangkaian acara diawali secara khidmat dengan laporan kegiatan yang disampaikan oleh
Pembina Bina Rohani Hindu Kemenpar RI, Ibu Ni Made Ayu Marthini. Dalam laporannya, ia
menyebutkan bahwa acara ini diikuti oleh sekitar 100 peserta secara luring dan 300 peserta
secara daring, yang terdiri dari pegawai Hindu di lingkungan kementerian, mahasiswa Poltekpar
Bali, hingga masyarakat umum. Semangat moderasi beragama juga sangat terasa dengan
kehadiran Ketua Bina Rohani Islam, Bapak Reza Fahlevi, dan Ketua Bina Rohani Kristen, Ibu
Florida Pardosi, yang mendampingi jajaran pimpinan Binrohin Hindu seperti Ibu Ni Wayan Giri
Adnyani dan Ibu I Gusti Ayu Dewi Hendriyani.
Puncak acara diisi dengan siraman rohani melalui Dharma Wacana oleh Ida Pandita Agung Putra
Nata Siliwangi Manuaba guna memberikan landasan moral bagi pengembangan sektor
pariwisata nasional. Selain agenda formal, doa bersama, dan pembacaan sloka suci, panitia juga
menyiapkan sesi interaktif berupa pembagian doorprize untuk meningkatkan antusiasme para
pegawai. Kehadiran berbagai elemen, termasuk UMKM dalam rangkaian aktivitas pendukung,
menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya berbicara tentang destinasi, tetapi juga tentang
pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Direktur Politeknik Pariwisata Bali, Bapak Ida Bagus Putu Puja, secara resmi menutup kegiatan
dengan menekankan bahwa Dharma Santi ini merupakan puncak refleksi dari rangkaian Hari
Raya Nyepi yang sarat nilai. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya spirit Vasudhaiva
Kutumbakam—bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga—sebagai fondasi utama
dalam membangun Indonesia yang maju dan harmonis. Beliau juga menyoroti bahwa nilai
spiritualitas dan keseimbangan hidup dalam perayaan Nyepi merupakan potensi besar bagi
pengembangan wisata spiritual dan wellness di Indonesia. Acara diakhiri dengan penuh
kehangatan, meninggalkan pesan penting mengenai pentingnya menjaga hati yang bersih dan
kebersamaan demi mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan penuh kedamaian.
Keterangan :
 Wakil Menteri Pariwisata :
Ni Luh Puspa
 Pembina Bina Rohani Hindu Kemenpar RI :
Ibu Ni Made Ayu Marthini
 Direktur Poltekpar Bali :
Dr. Drs. Ida Bagus Putu Puja, M.Kes

Dharma Santi Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/2026M

Denpasar , Bali Kini  - Menjelang  hari pelaksanaan puncak Dharma Santi Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/2026M, semangat kebersamaan dan persatuan kian terasa. Mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju”.

Tema besar yang diangkat menegaskan filosofi universal bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga besar yang hidup dalam satu bumi yang sama. Nilai ini menjadi relevan dalam konteks kebangsaan Indonesia yang majemuk, sekaligus menjadi pijakan untuk memperkuat harmoni sosial dan toleransi antarumat beragama.

Dalam keterangan pers, Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Mayjen  TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya menjelaskan pesan utama yang digaungkan dalam acara ini bersatu dalam semangat Vasudhaiva Kutumbakam. “Saatnya kita bersatu dalam semangat Vasudhaiva Kutumbakam, bahwa kita semua adalah satu keluarga besar,” jelasnya, Selasa (14/04/2026).

Pria yang akrab disapa WBT itu mengungkap bahwa acara tersebut melibatkan seluruh elemen masyarakat Hindu se Indonesia. Dia juga mengungkap beberapa tokoh turut diundang untuk menghadiri acara seperti Presiden RI, Prabowo Subianto, Gubernur Bali hingga Wamenpar.

Acara puncak Dharma Santi Nasional 2026 dijadwalkan akan digelar pada Jumat, 17 April 2026, pukul 16.00 WITA – selesai, di Taman Budaya (Art Center), Bali

“Kegiatan ini akan menghadirkan berbagai elemen masyarakat, tokoh agama, pemuda, serta undangan dari berbagai daerah untuk bersama-sama merayakan nilai kedamaian, persatuan, dan keharmonisan. Kami juga turut mengundang bapak Presiden Prabowo, Gubernur Bali, hingga wakil menteri Pariwisata untuk hadir," tambah purnawirawan mantan Danjen Kopasus itu.

Disisi lain, Ketua Panitia pelaksana Dharma Santi Nasional, Marsda TNI (Purn) I Made Susila mengajak seluruh masyarakat untuk hadir, bersinergi, dan mengambil bagian dalam momentum kebersamaan lewat acara ini. "Momentum rangkaian akhir pelaksanaan Nyepi ini sebagai wujud nyata implementasi nilai-nilai dharma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu kami mengajak seluruh umat untuk turut hadir dan bersinergi serta saling mengisi di momen bahagia ini," tegasnya.

Acara Dharma Santi Nasional ini turut dimeriahkan dengan berbagai hiburan kesenian. Mulai dari Bondres (Lawakan Khas Bali), hiburan Seruling, grup musik, hingga sendra tari kolosal.

Dharma Santi Nasional 2026 diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi pengingat kolektif bahwa persatuan adalah fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia yang maju dan harmonis.

adapun kegiatan yang sudah terlaksana Launching Perayaan Dharmasanti 2026 dan Perayaan Siwaratri, di Prambanan (Sabtu, 17 Januari 2026), Perayaan Maha Siwaratri dan Penanaman Pohon Serentak se-Indonesia  (Minggu, 15 Februari 2026), Bhakti Sosial dan Pelayanan Kesehatan di Aceh (Rabu-Jumat, 25-27 Februari 2026), Saka Boga Sevaman Serentak se-Indonesia (Minggu, 1 Maret 2026), Makerti Ayuning Danu Serentak se-Indonesia (Minggu 8 Maret 2026), Melasti Serentak se-Indonesia (Minggu, 15 Maret 2026), Donor Darah Serentak se-Indonesia (Minggu, 1 Maret 2026), Tawur Agung Kesanga di Prambanan (Rabu, 18 Maret 2026), Perayaan Hari Suci Nyepi Serentak se-Indonesia (Kamis, 19 Maret 2026), Seminar Nasional di Bali (Senin, 6 April 2026), dan  Saka Yoga Festival di Jakarta (Sabtu, 11 April 2026)

Menteri LH Hanif Faisol Apresiasi 60% Warga Denpasar Sudah Memilah Sampah

Ket. Foto : Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat mendampingi Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq berkunjung di TPST Kesiman Kertalangu,  TPA Suwung, TPST Tahura 1 dan Tahura 2, serta lokasi TPS3R Sesetan Jumat (17/4) 

Denpasar, Bali Kini - Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, memberikan apresiasi kepada masyarakat Kota Denpasar khususnya dan Bali pada umumnya yang dinilai telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengelolaan sampah. Hal tersebut disampaikan saat kunjungannya ke TPST Kesiman Kertalangu, Jumat (17/4).


Dalam kunjungan tersebut, Menteri LH didampingi Gubernur Bali, I Wayan Koster, serta Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara.

Selain ke TPST Kesiman Kertalangu, rangkaian kunjungan Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq kali ini juga turut mendatangi lokasi TPA Suwung, TPST Tahura 1 dan Tahura 2, serta lokasi TPS3R Sesetan.


Menteri LH Hanif Faisol  mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang ada, lebih dari 60 persen masyarakat Bali telah mulai melakukan pemilahan sampah dari sumber. Menurutnya, capaian ini merupakan lompatan budaya yang luar biasa dan tidak mudah dilakukan.


“Ini adalah manifestasi kerja keras seluruh komponen masyarakat Bali, mulai dari gubernur, wali kota, hingga perangkat desa adat. Membangun kebiasaan memilah sampah bukan hal yang mudah, namun Bali telah menunjukkan kemajuan yang signifikan,” ujarnya.


Lebih lanjut dijelaskan bahwa penanganan sampah di Provinsi Bali, khususnya di wilayah Denpasar dan Badung, kini menjadi fokus pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup bersama Pemerintah Provinsi Bali. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, di mana gubernur memiliki kewajiban melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan pengelolaan sampah di daerah.


Lebih jauh, Menteri LH Hanif Faisol juga menegaskan pentingnya penegakan hukum terhadap pelanggaran pengelolaan sampah. Dengan capaian pemilahan yang telah mencapai 60 hingga 70 persen, pemerintah daerah dinilai perlu menerapkan sanksi tindak pidana ringan (tipiring) bagi masyarakat yang tidak memilah sampah atau membuang sampah sembarangan.


“Tidak adil jika masyarakat yang sudah disiplin tidak dilindungi. Siapa pun yang melanggar harus dikenakan sanksi tipiring, sebagai bentuk keadilan bagi masyarakat yang sudah berjuang,” tegasnya.


Dalam kesempatan tersebut, Hanif juga menyoroti perkembangan operasional TPST Kesiman Kertalangu yang mulai beroperasi optimal sejak didirikan pada tahun 2021. Saat ini kapasitas pengolahan berada di kisaran 60–80 ton per hari, dan ditargetkan meningkat hingga 200 ton per hari pada Juni mendatang.


Selain itu, pengurangan beban sampah di TPA Suwung juga menunjukkan progres signifikan, dengan kapasitas penanganan yang mendekati 200 ton per hari. Ditambah dengan kontribusi TPA Tahura sekitar 100 ton per hari, total penanganan sampah melalui TPST di Bali diproyeksikan mencapai 500 ton per hari.


Menteri LH juga menegaskan bahwa praktik pembuangan terbuka (open dumping) di seluruh TPA di Bali wajib dihentikan paling lambat Agustus mendatang. Jika tidak, pemerintah pusat akan mengambil langkah hukum tegas terhadap pengelola TPA yang masih menerapkan sistem tersebut.


Khusus untuk TPA Suwung, direncanakan akan dikembangkan menjadi fasilitas pengolahan sampah berbasis energi (waste to energy). Oleh karena itu, kualitas sampah yang masuk harus terpilah dengan baik agar memenuhi kebutuhan teknologi tersebut.


“Kedepan, hanya sampah non-organik tertentu yang boleh masuk ke Suwung. Ini penting untuk mendukung operasional waste to energy dalam beberapa tahun ke depan,” jelasnya.


Hanif juga optimistis bahwa Bali mampu melakukan perubahan budaya pengelolaan sampah secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan dalam mengelola lingkungan.


“Negara maju tidak hanya ditandai dengan gedung tinggi, tetapi bagaimana mengelola sampah dengan baik. Kebersihan adalah cerminan budaya yang sesungguhnya,” imbuhnya.

Sementara itu, penguatan pengelolaan sampah berbasis sumber terus didorong, mengingat pemilahan sampah merupakan kewajiban setiap individu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008. 

Pemerintah kabupaten/kota bertugas mengoordinasikan pengelolaan di wilayahnya, sementara gubernur berperan dalam pengawasan. Kementrian  menentukan norma apa yang harus dilakukan oleh para bupati walikota, yakni meliputi tiga hal. Antara lain, menjadikan sampah sebagai sudut daya, meningkatkan lingkungan hidup dan menjaga kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, terhadap upaya pengelolaan sampah di Kota Denpasar, khususnya capaian lebih dari 60 persen masyarakat yang telah melakukan pemilahan sampah dari sumber.


Menurut Jaya Negara, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat, mulai dari desa adat, perangkat daerah, hingga komunitas lingkungan yang secara konsisten mengedukasi dan menggerakkan masyarakat.


“Kami mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang diberikan Bapak Menteri. Ini menjadi motivasi bagi kami di Kota Denpasar untuk terus memperkuat gerakan pemilahan sampah dari sumber,” ujarnya.


Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Denpasar terus menggencarkan berbagai program baik dari pengelolaan dari sumbernya,  serta optimalisasi fasilitas pengolahan seperti TPST Kesiman Kertalangu, TPST Tahura, dan juga TPS3R yang ada di desa dan kelurahan.

Pembagian komposter bagi masyarakat, kata Jaya Negara juga masih menjadi salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Denpasar untuk mendukung gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber. Pihaknya akan terus menggenjot pendistribusian bag komposter ini agar bisa segera diterima oleh masyarakat.

Lebih lanjut, Jaya Negara juga menegaskan bahwa pihaknya juga siap menindaklanjuti arahan Menteri terkait penegakan aturan bagi pelanggaran pengelolaan sampah. Penegakan Peraturan Daerah, termasuk penerapan sanksi tipiring, akan dilakukan secara bertahap dengan tetap mengedepankan pendekatan edukatif.

“Tentu penegakan aturan akan kami lakukan, namun sebelumnya penegakan dilakukan kami harus memberikan pelayanan secara keseluruhan kepada masyarakat dulu, serta tetap diiringi dengan sosialisasi dan edukasi agar masyarakat semakin sadar dan disiplin dalam memilah sampah,” tambahnya.(ayu)

Breaking News

warmadewa

warmadewa

Kabar Internasional

Kabar Karangasem

Kabar Tabanan

Kabar Nasional

© Copyright 2021 BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA | All Right Reserved