Laporan Reporter : Adi
Jakarta , Bali Kini - Pencalonan bukan sekadar kontestasi, melainkan panggilan dharma. Dengan keyakinan itu, Gde Bayu Pangestu AW, S.E. secara resmi menyatakan diri maju sebagai Calon Ketua Umum Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Periode 2026–2028. Langkah ini diambil bukan dalam ruang hampa, melainkan lahir dari proses panjang pengabdian, refleksi, dan kesadaran akan tanggung jawab kader terhadap masa depan organisasi.
Sebagai kader yang tumbuh dan ditempa di rahim KMHDI, Bayu sapaan akrabnya telah melewati berbagai fase pengabdian. Saat ini ia aktif sebagai Bendahara Umum Pimpinan Pusat KMHDI, sebuah posisi strategis yang menuntut ketelitian, integritas, serta keberanian dalam menjaga tata kelola organisasi. Di saat yang sama, ia tengah menempuh pendidikan Magister of Business Administration (MBA) di Universitas Gadjah Mada, sembari menjalani peran profesional sebagai konsultan bisnis dan pelaku usaha di Jakarta. Kombinasi pengalaman organisasi, akademik, dan profesional inilah yang membentuk cara pandangnya tentang kepemimpinan: kokoh secara nilai, adaptif secara strategi.
Dalam pernyataannya, Bayu menegaskan bahwa pencalonannya bukan didorong oleh ambisi personal, melainkan oleh kegelisahan dan harapan yang sama-sama dirasakan banyak kader.
“KMHDI memiliki potensi besar sebagai kekuatan intelektual dan moral umat Hindu muda. Namun potensi itu harus dikelola dengan sistem yang kuat, kepemimpinan yang inklusif, dan arah gerak yang jelas,” ujarnya.
Berangkat dari refleksi tersebut, Bayu menawarkan ASTA ABYAKTA, delapan program strategis nasional yang dirancang sebagai fondasi kepemimpinan PP KMHDI 2026–2028. ASTA ABYAKTA tidak hanya dimaknai sebagai program kerja, tetapi sebagai kerangka nilai dan arah perubahan mulai dari pembenahan internal organisasi, penguatan kapasitas kader, hingga akselerasi peran sosial KMHDI di tengah masyarakat dan negara.
Menurut Bayu, pembenahan internal menjadi langkah awal yang tak bisa ditawar. Organisasi yang besar hanya dapat berdiri tegak jika ditopang oleh tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berintegritas. Dari sana, KMHDI diharapkan mampu melangkah lebih jauh sebagai mitra strategis pemangku kebijakan serta agen perubahan sosial yang relevan dengan tantangan zaman.
Lebih dari itu, pencalonan ini juga membawa pesan persatuan. Bayu menekankan bahwa kepemimpinan KMHDI ke depan harus menjadi ruang bersama, bukan milik segelintir kelompok.
“KMHDI harus menjadi rumah besar yang menumbuhkan rasa bangga, percaya diri, dan harga diri kader. Dari sanalah kontribusi nyata untuk umat dan bangsa bisa lahir,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Bayu memohon doa restu dan dukungan seluruh kader KMHDI di manapun berada. Ia berkomitmen, jika kelak diberikan amanah, akan mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya sepenuhnya untuk organisasi, bekerja bersama seluruh jajaran kepengurusan dengan semangat kolektif, keterbukaan, dan tanggung jawab moral.
Pencalonan Gde Bayu Pangestu AW menjadi penanda bahwa estafet kepemimpinan KMHDI terus bergerak. Sebuah ikhtiar untuk menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar nilai dharma. Sebab bagi KMHDI, kepemimpinan sejati bukan tentang siapa yang berdiri paling depan, melainkan siapa yang paling tulus berjalan bersama kader dan bangsanya.

FOLLOW THE BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram